Kolaborasi Remaja Masjid Al Muwahhidin dan Al Muttaqin dalam GLAI V dinilai sebagai langkah strategis membangun ruang positif bagi remaja di tengah meningkatnya kenakalan remaja.
GLAI V di Labuhan Deli: Ketika Masjid Menjadi Ruang Tumbuh Generasi Muda di Tengah Krisis Sosial Remaja
Namun di balik agenda teknis lomba, GLAI V menyimpan narasi yang lebih besar: upaya kolektif masyarakat masjid dalam membangun benteng moral bagi generasi muda.
Dari Lomba ke Gerakan Sosial
GLAI V tidak lahir sebagai sekadar event tahunan. Ia tumbuh dari kesadaran bersama bahwa remaja membutuhkan ruang aman untuk berkembang—ruang yang tidak hanya menghibur, tetapi juga membentuk karakter.
Kolaborasi antara Remaja Masjid Al Muwahhidin dan Remaja Masjid Al Muttaqin menjadi inti dari gerakan ini. Keduanya bergerak dalam satu visi yang sama, yakni menjadikan masjid sebagai pusat aktivitas remaja yang produktif.
Dukungan Forum Komunikasi Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Desa Manunggal serta Ketua BKM Masjid Al Muttaqin, Eko Tri Guswanto, memperkuat legitimasi kegiatan ini sebagai gerakan berbasis komunitas, bukan sekadar agenda seremonial.
Suara dari Lapangan: Masjid sebagai Ruang Solusi
Dalam perspektif para penggerak kegiatan, GLAI V dipahami sebagai respon langsung terhadap realitas sosial remaja saat ini. Ketua BKM Masjid Al Muttaqin, Eko Tri Guswanto, menilai bahwa perubahan pola pergaulan remaja menuntut pendekatan yang lebih kreatif dan inklusif.
“Kita tidak bisa hanya mengandalkan nasihat. Harus ada ruang yang membuat mereka merasa diterima, dihargai, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Di situlah peran kegiatan seperti GLAI ini menjadi penting,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa masjid kini tidak lagi berdiri hanya sebagai simbol spiritual, tetapi juga sebagai institusi sosial yang aktif merespons dinamika masyarakat.
Technical Meeting: Titik Temu Ratusan Peserta
Technical Meeting GLAI V yang digelar pada 21 Juni 2026 menjadi momentum penting dalam memastikan kesiapan pelaksanaan lomba. Kegiatan ini mempertemukan peserta dari berbagai cabang lomba, mulai dari adzan, hafalan surah pendek, dai cilik, hingga shalawat dan busana muslim.
Ketua Pelaksana GLAI V, Wira Andika, menilai bahwa pertemuan ini sekaligus menjadi ruang edukasi awal bagi peserta tentang nilai-nilai yang diusung kegiatan.
“Kami ingin peserta tidak hanya datang untuk bertanding, tetapi juga memahami bahwa ini adalah ruang kebersamaan. Ada nilai silaturahmi yang lebih besar dari sekadar lomba,” katanya.
Di sisi lain, Sekretaris Panitia, Qyandra Afikah R., menyoroti kompleksitas teknis yang harus dikelola seiring meningkatnya jumlah peserta.
“Data peserta terus bertambah dan ini menjadi tantangan tersendiri. Kami harus memastikan semua administrasi tertata agar pelaksanaan nanti tidak hanya meriah, tetapi juga rapi dan profesional,” ujarnya.
Angka yang Bergerak: 179 Peserta dan Potensi Pertumbuhan
Hingga pelaksanaan Technical Meeting, panitia mencatat 179 peserta telah terdaftar. Angka ini mencerminkan antusiasme yang tidak kecil, terutama untuk kegiatan berbasis keagamaan di tingkat remaja.
Komposisi peserta menunjukkan keberagaman minat:
- Lomba hafalan dan adzan tetap menjadi cabang dengan peminat tinggi
- Kegiatan seni seperti mewarnai dan vokal solo juga menarik perhatian
- Sementara shalawat menjadi kategori yang melibatkan kelompok peserta dalam jumlah besar
Panitia masih membuka pendaftaran hingga 25 Juni 2026, dengan target mencapai 300 peserta, sebuah angka yang menunjukkan optimisme terhadap daya tarik kegiatan ini di tengah masyarakat.
Masjid, Remaja, dan Tantangan Zaman
Jika dilihat lebih dalam, GLAI V mencerminkan transformasi fungsi masjid di tingkat akar rumput. Masjid tidak lagi hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang produksi nilai sosial dan budaya.
Di tengah kekhawatiran meningkatnya kenakalan remaja, ketergantungan gawai, dan menurunnya interaksi sosial langsung, kegiatan seperti GLAI V hadir sebagai alternatif ruang interaksi yang terarah.
Namun, tantangan terbesar bukan pada pelaksanaan acara, melainkan pada keberlanjutan. Banyak kegiatan serupa berhenti pada euforia event, tanpa tindak lanjut pembinaan yang konsisten. Di titik ini, peran kolaborasi remaja masjid menjadi kunci agar GLAI V tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan.
Menjaga Api Kolaborasi
GLAI V di Labuhan Deli memperlihatkan bahwa perubahan sosial tidak selalu harus dimulai dari kebijakan besar. Kadang, ia tumbuh dari ruang-ruang kecil seperti masjid lingkungan, dari inisiatif remaja, dan dari kesediaan untuk bekerja bersama.
Di balik angka 179 peserta, ada harapan yang lebih besar: bahwa generasi muda masih memiliki ruang untuk tumbuh dalam nilai, kebersamaan, dan arah yang positif—selama ruang itu terus dijaga dan dirawat bersama. [red-mgo]
.jpeg)
.jpeg)

0 Komentar